Nova Kurniawan’s Weblog

Februari 8, 2010

Hujan

Diarsipkan di bawah: curhat-curhatan...... — Nova Kurniawan @ 5:25 am
Tags:

Hujan, mungkin sesuatu yang biasa bagi kebanyakan orang. Setiap hari juga hujan, apanya yang spesial, apanya yang luar biasa, ada juga nyusahin, mau ke mana-mana susah, mesti pake jas hujan, mesti dilinting-linting celana panjangnya, mesti digulung-gulung lengan bajunya, mesti bla…bla..bla….

Huaaah, capek nih mikirin hujan… padahal dah ada janji penting nih, eh tau-tau ga jadi gara-gara hujan… huuuh, bete..

Hmm..

Mungkin itu yang tersimpan di benak setiap orang, dengan segala kebetean dan kesuntukannya, akibat hujan yang mengacaukan segala rencana mereka..

Dan mungkin itu yang membedakan mereka denganku.

Buatku hujan mengingatkanku pada sesuatu.

Sesuatu yang indah.

Rintikannya mengingatkanku pada geraknya… pada geriknya… pada senyumnya….

Pada kabut itu, pada hijau itu, pada kedinginan itu, pada lagu itu, pada ayunan itu, pada sepi itu, pada tangga itu, pada gardu pandang itu,… pada tangisan yang tak kutahu akibat apa…

Aku selalu terdiam ketika tetesan mulai jatuh satu persatu membasahi kelopak mataku. Seolah senyum ini pun beku tertekan oleh rindu yang memuncak dalam dada.

Sungguh belum pernah aku merasakan gemuruh seperti ini. Rasanya berbeda, sebeda makna sejuk dengan dingin, atau hangat dengan panas. Nuansa yang sepertinya sama, namun indah di satu sisi dan menyakitkan di sisi lain.

Maha Indah Allah yang menciptakan perasaan dengan segala kecemasan, kegalauan, dan mungkin juga sakit, namun dibingkai dengan perasaan rindu, yang seperti dahaga yang tertahankan.

Aku malu menuliskannya… tapi dobrakan dalam hati ini terus menerus menuntut diriku mencurahkannya dalam bentuk apapun…

Aku gelisah… sangat-sangat gelisah karena diri ini begitu lemah, begitu rapuh, seakan takut kehilangan dirinya… kehilangan sosok yang baru saja mengisi kosong dan ruang hampa ini, dengan segala keriangan dan segala tingkah lakunya yang terus menerus terekam dan berputar dalam alam pikiran sadarku….

Padahal, aku sendiri sadar, dia bukan milikku…. Bahkan aku sadar, aku, bukan sesuatu untuknya….

Hmph…

..

…..

…..

Satu hal yang terpikir olehku saat ini adalah, mungkin dia akan sangat bahagia, entah olehku ataupun tanpaku… mungkin oleh seseorang yang lain…

Entah, rahasia yang hanya Allah pemilik kuncinya.

Namun yang ingin aku pastikan adalah, dirinya harus bahagia. Memang bahagia. Bagaimanapun caranya, bahkan jika itu membutuhkan pengorbananku untuk membunuh perasaanku sendiri.

Mungkin Allah yang akan menunjukkannya padaku, sebaik-baik hal yang harus aku lakukan.

Januari 11, 2010

Seni dan Menulis: Pendidikan Pembebasan Palestina

Diarsipkan di bawah: Serius nih.... — Nova Kurniawan @ 9:07 pm
Tags: , , ,

Pendidikan dalam kehidupan ras manusia adalah niscaya[1]. Keberadaannya tidak bisa diganggu-gugat karena alasan apapun. Jika ada sekelompok manusia yang menentang keberadaan pendidikan, berarti sekelompok manusia tersebut secara langsung dan terang-terangan menentang kemajuan peradaban dan peningkatan kualitas kehidupan manusia.

Ada sebuah negeri yang masih asing dengan keberadaan pendidikan. Negeri konflik yang bahkan sampai sekarang diragukan keberadaan nilai-nilai kemanusiaannya. Bukan karena rakyatnya yang tidak berperadaban, tetapi karena egoisme negeri adidaya Israel yang menjajahnya. Pendidikan sebagai basis penting bagi manusia meningkatkan kualitas hidupnya tak bisa ditemukan di negeri ini, keberadaannya lenyap tanpa bekas. Negeri yang di dalam peta politik dunia lama dikenal dengan nama Palestina.

Palestina saat ini adalah Palestina yang terjajah, terdzhalimi, dan teraniaya. PBB sebagai institusi perdamaian seolah bungkam ketika mengatasi konflik di tanah Al-Quds ini[2]. Politik internasional pun akhirnya mengakui daerah konflik tersebut dengan nama Israel, bukan negeri Palestina. Sementara itu, rakyat Palestina berada dalam situasi mencekam karena setiap saat peluru tentara Israel bisa saja mampir ke tubuh mereka, distribusi air yang sangat tidak merata, dan krisis pangan yang berkepanjangan.

Keadaan ini harus segera diubah. Pendidikan harus menjadi usaha perjuangan agar kualitas rakyat Palestina berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan jelas hanya akan terjadi dengan pendidikan sebagai motornya, pendidikan yang efektif dengan kondisi Negara Palestina tentunya, bukan pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya.

Pendidikan rakyat Palestina adalah pendidikan dalam pembentukan perlawanan dan usaha pembebasan negeri, bukan semata-mata peningkatan kapasitas skill dan intelektualitas pencari kerja. Sudut pandang ini penting dipahami, sehingga ketika berbicara masalah pendidikan rakyat Palestina, tidak akan tercampur aduk dengan paradigma umum yang memandang pendidikan seperti lazimnya pendidikan formal. Dengan segala latar belakang dan pemikiran tersebut, media seni dan penulisan dinilai merupakan cara pendidikan yang efektif dilakukan.

Ada beberapa alasan yang mendasari dan menguatkan pemfokusan pendidikan rakyat Palestina di bidang seni dan menulis. Pertama, dengan seni dan tulisan rakyat Palestina bisa menyebarkan kegelisahan dan keinginan kuat akan kemerdekaan negeri kepada dunia Internasional. Segala produk karya seni dan karya tulis yang rakyat Palestina buat akan membuka wacana dunia Internasional yang dikungkung oleh hegemoni kepentingan tertentu[3].

Kedua, Israel boleh saja mengkungkung politik, ekonomi, dan kebebasan Palestina dengan pendekatan kekerasan, akan tetapi perlawanan dengan seni dan budaya menulis akan semakin menguat seiring dengan menguatnya pendekatan represif Israel. Sejarah Indonesia pun menguatkan fakta ini, bahwa represi yang semakin kuat dari penjajah akan membuat daya intelektualitas dan kesenian bangkit[4].

Ketiga, dengan seni dan budaya menulis Palestina akan tetap eksis karena mereka tidak hanya berperang dalam perang frontal, tetapi juga perang budaya dan perang intelektualitas. Jika dengan skenario terburuk Palestina akan benar-benar hancur dengan proses represi militer di luar batas dari Israel, maka masa depan dunia akan mengenang tulisan-tulisan dan karya seni perjuangan rakyat Palestina. Hal ini akan memberikan efek positif terhadap dunia Islam, namun sebaliknya bagi Israel.

Untuk menerapkan proses pendidikan seperti ini diperlukan berbagai pertimbangan untuk menentukan langkah-langkah kongkret seperti cara belajar, model pembelajaran dan tempat belajar. Penentuan beberapa hal ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan terkait dengan tujuan dan kondisi negeri Palestina itu sendiri.

Cara belajar yang bisa digunakan dalam bidang seni dan menulis cukup berbeda. Dalam bidang seni, pemfokusan harus dilakukan mengingat karakter dari seni yang memiliki cakupan luas dan fokus pelatihan yang khusus di setiap bidangnya. Pendidikan seni juga seharusnya didasari tujuan awal pendidikan, yaitu sebagai basis perlawanan. Oleh sebab itu pendidikan seni seperti teater, lukisan, film, atau musik menjadi fokus utama yang penting untuk dilakukan. Produk-produk dari empat bidang seni tersebut adalah bidang seni yang cukup populer dikalangan umum.

Berbeda halnya dengan pendidikan seni, pendidikan menulis seharusnya tidak difokuskan ke bentuk tulisan tertentu. Rakyat Palestina seharusnya mampu membuat karya-karya tulis di berbagai macam bentuk tulisan, baik makalah, artikel ilmiah, artikel opini, cerpen, prosa, novel, puisi, dan sebagainya. Peluasan arah pendidikan menulis lebih ditujukan untuk memperluas target pasar dunia Internasional. Pelatihan menulis di berbagai macam bentuk ini pun tidak memiliki metode pendidikan yang berbeda jauh sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan keseluruhannya.

Ada dua model pembelajaran yang bisa digunakan, yaitu model diskusi kelompok kecil berisi 5-10 murid dengan satu guru dan model klasik seperti kelas pada sekolah-sekolah formal. Kedua model ini bisa dilakukan tergantung kondisi yang ada di negeri Palestina itu sendiri. Dalam kondisi perang, model diskusi kelompok bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun dalam kondisi normal kedua model tersebut bisa dilakukan.

Tempat belajar yang menjadi basis pendidikan rakyat dalam kondisi tidak perang seharusnya berada di masjid. Hal ini dilakukan untuk memberikan ruh perjuangan Islam pada rakyat Palestina. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana masjid digunakan oleh kaum muslim saat itu sebagai sebagai basis berbagai macam kegiatan, termasuk di dalamnya mengatur strategi perang dan pendidikan.

Salah satu contoh kesuksesan penyebaran paradigma dengan pendidikan seni dan menulis terjadi di Indonesia. Sejarah menunjukkan bagaimana PKI dengan Lekranya berhasil menyebarkan paradigma komunis dan menggaet sangat banyak pendukung saat itu. Logika ini bisa diterapkan dalam pola perjuangan Palestina dalam menggaet sebanyak mungkin pendukung di dunia Internasional. Dalam dunia penulisan, FLP bisa dijadikan contoh sukses pendidikan menulis di Indonesia. Komunitas pendidikan menulis ini cukup berhasil memberikan warna baru bagi buku-buku Islam di Indonesia. Tentunya hal ini cukup berdampak pada paradigma masyarakat khususnya generasi muda dalam memahami Islam.

Pendidikan di kedua bidang ini harus segera dilakukan dengan pilar-pilar penguat yang mampu menopang keberadaannya. Tanpa pilar-pilar penguat ini, pendidikan seni dan menulis untuk rakyat Palestina menjadi rapuh dan mudah dihancurkan. Pilar-pilar ini tentu saja seharusnya ditegakkan oleh negeri-negeri dengan penduduk mayoritas muslim di dunia, bukan oleh Palestina itu sendiri. Logikanya karena negeri Palestina tidak memiliki daya untuk menegakkan pilar-pilar penguat tersebut.

Pilar penguat tersebut terdiri dari pilar politik, pilar ekonomi, dan pilar hukum. Ketiga pilar ini merupakan pilar-pilar penting yang mampu menyangga eksistensi pendidikan seni dan menulis yang sedang berlangsung. Politik dengan diplomasi dan negosiasinya, ekonomi dengan bantuan sumber daya yang dibutuhkan, dan hukum dengan penegakan peraturan perlindungan pendidikannya, semua ini penting untuk ditegakkan.

Ketiga hal tersebut diharapkan mampu menjadi balok besar penyangga upaya pembebasan negeri konflik tempat bersejarah kaum muslimin tersebut. Tempat bersejarah yang sampai detik ini masih dialiri oleh darah rakyatnya sendiri. Pendidikanlah yang perlu diusahakan untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Sekali lagi bukan pendidikan biasa yang dipraktekkan di sekolah-sekolah formal, akan tetapi pendidikan dalam pembentukan perlawanan dan usaha pembebasan negeri.


[1] Lihat http://www.ntust-isa.org/index.php?option=com_content&task=view&id=49

[2] Dikutip secara tidak langsung dari http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A2134_0_3_0_M

[3] Dikutip secara tidak langsung dari http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/5711/hegemoni-media-as-tengah-menemui-ajal-kepercayaan-publik-mulai-surut

[4] Pendapat ini diambil dari kesimpulan terhadap produktifitas seni dan tulisan dari gerakan-gerakan sosial Indonesia yang makin menguat justru ketika makin kuatnya kekangan pemerintah pada masa pra 1998.

Januari 4, 2010

Keluarga Muslim Sebagai Pondasi Masyarakat Muslim

Diarsipkan di bawah: Serius nih.... — Nova Kurniawan @ 6:02 am
Tags: , ,

Dalam proses pendidikan seorang manusia, ada sebuah tempat belajar terindah yang setiap orang memilikinya. Tempat dimana ruang-ruang kelasnya hanya terdiri dari beberapa orang, dan tentunya tidak sebesar kelas-kelas formal di sekolah. Di dalamnya tidak terdapat raport sebagai media pengukur kemampuan setiap peserta didik, yang ada hanya kasih sayang dan kesabaran 2 orang pria dan wanita. Buku-bukunya tidak wajib ada, yang ada hanya konsistensi luar biasa untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Kurikulumnya pun cenderung tidak sistematis tetapi abstrak dan tidak berbentuk, terkadang mengajarkan matematika, tetapi beberapa saat mengajarkan biologi, beberapa saat kemudian mengajarkan kehidupan dan agama. Tempat terindah yang dimiliki oleh seorang manusia dari pertama kali dia menghirup udara dunia sampai akhir hayatnya, keluarga.

Rasulullah mencontohkan sebuah tauladan yang luar biasa mengenai utamanya sebuah keluarga. Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang menceritakan bahwa aisyah menangis ketika beliau menceritakan kisah hidup Rasulullah dalam keluarganya. Beliau menangis karena tidak sanggup mengingat kenanga indah seorang suami baik hati seperti Rasulullah, dimana dia menambal sendiri sepatu yang bolog, menjahit sendiri baju yang robek, ikut membersihkan rumah bersama-sama istrinya, dan bahkan membantu memasak untuk keluarganya.

Keluarga memang memiliki peran yang sangat vital dalam perkembangan kehidupan masyarakat muslim. Penyebabnya karena keluarga menjadi bekal pembelajaran pertama seorang muslim sebelum dia terjun ke dalam ralita masyarakat yang lebih kompleks. Jika pembekalan yang dilakukan oleh keluarga baik, maka begitu pula yang akan dia lakukan kepada dan dalam masyarakat, begitu juga sebaliknya.

Dalam masyarakat, analogi sel bisa diterpakan dalam logika keluarga. Keluarga dalam kehidupan masyarakat muslim seperti sebuah sel. Keluarga ibarat sel yang bermitosis menjadi sebuah jaringan, berkembang menjadi sebuah organ, dan terus terkait satu sama lain membentuk sebuah sistem yang kompleks. Makin kuat sel-sel yang ada, maka akan semakin kuat pula jaringan, organ dan sistem yang tercipta. Analogi seperti itu bisa digunakan dalam logika keluarga. Keluarga muslim, akan membentuk jaringan keluarga muslim, berkembang menjadi organisasi muslim dan terkait satu sama lain membentuk sistem kehidupan muslim dalam masyakarakat.

Dengan penjelasan seperti ini jelas pembentukan keluarga muslim secara kuat akan membentuk dan berdampak pada pembentukan keluarga muslim yang juga kuat. Oleh karena itu, pembentukan keluarga muslim yang kuat dinilai sangat penting untuk mencapai cita-cita tegakna kalimatullah di muka bumi.

Desember 19, 2009

Menyoalkan Kembali Gerakan Mahasiswa

Diarsipkan di bawah: Serius nih.... — Nova Kurniawan @ 8:01 am
Tags: ,

Tidak ada yang meragukan peran serta mahasiswa bagi perubahan negeri ini. Di tahun 1908, mahasiswa sebagai garda terdepan perubahan tercatat mendirikan organisasi pergerakan pertama, Boedi Oetomo, yang saat ini banyak dikenal sebagai tonggak awal kebangkitan bangsa Indonesia. Dan sejak tahun itu, mahasiswa terus-menerus melancarkan beragam aksi –aksi politis yang sangat berpengaruh dalam perjalanan bangsa ini. Kita bisa melihat bagaimana keberanian mereka ketika mengumandangkan sebuah sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Kita juga bisa melihat bagaimana kekuatan intelektual mereka melahirkan organisasi-organisasi mahasiswa sebagai pusat-pusat pengkaderan pemimpin masa depan Indonesia. Aksi-aksi monumentalpun tak ketinggalan menjadi goresan tinta emas bagi mereka. 1998 menjadi bukti kepahlawanan mahasiswa dalam melakukan perubahan negeri ini. Mereka yang tak mampu berbicara sebelum 1998 akhirnya terbebas dari cengkeraman tiran dan menjadi martir-martir baru penyumbang ide perubahan.

Namun sayangnya zaman telah berubah. Zaman baru dan era baru saat ini seolah tanpa ampun menggerus paradigma lama yang mengatakan bahwa politik merupakan panglima utama. Kita bisa melihat bagaimana negara-negara maju dengan berbagai cara, mati-matian membangkitkan potensi SDMnya dengan berbagai skill, teknologi, kemampuan berbahasa, matematika, biologi, dan kualitas lainnya. Anggaran negara hampir seluruhnya difokuskan untuk memelihara tunas-tunas bangsanya. Dan mirisnya, yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya. Ketika bangsa lain sibuk mengurusi peningkatan keahlian Ilmu pengetahuannya, bangsa ini masih saja berkutat dalam permasalahan sosial politik yang tiada henti.

Sialnya masalah ini terjadi bukan hanya pada tataran elit pemerintahan negeri ini, bahkan gerakan-gerakan intelektual mahasiswa seolah apatis dengan perubahan yang terjadi. Sampai sekarang gerakan mahasiswa umumnya masih saja terkotak dalam romantisme masa lampau yang memang gencar diwarnai oleh aksi-aksi politis. Ya! Gerakan mahasiswa masih saja terkotak melulu pada urusan sosial politik. Tidak masalah jika memang mahasiswa tersebut berasal dari ilmu-ilmu yang berkaitan, tapi akan bermasalah ketika ternyata mahasiswa tersebut tidak berasal dari ilmu yang berkaitan. Bayangkan saja seorang mahasiswa kedokteran ‘dipaksa’ untuk belajar masalah konflik antar partai ketimbang berbicara masalah kanker dan perkembangan tingkat kesehatan Indonesia. lebih parah lagi ketika seorang mahasiswa jurusan teknik kimia ‘dicekoki’ dengan ilmu-ilmu gerakan-gerakan sosial ala marxisme dibanding meneliti kemungkinan penggunaan bioenergi.

Di mana letak relevansi antara agitasi, propaganda, blow up isu dan sebagainya dengan teknologi, informatika, dan ilmu penyakit??? Jika sebelumnya dikatakan bahwa salah satu’master piece’ mahasiswa adalah organisasi-organisasi mahasiswa sebagai kawah candra dimuka kepemimpinan nasional, maka makna ini seharusnya terkandung dan terefleksi sampai saat ini. Saya tidak hendak mengatakan bahwa mahasiswa seharusnya anti politik, tetapi lebih menekankan bahwa fokus terhadap politik seharusnya dikurangi jika memang ingin bangsa ini berubah.

Nah, pertanyaannya adalah, apakah gerakan mahasiswa sampai saat ini masih relevan menggendong makna pencetak pemimpin masa depan bangsa?? Perlu diperhatikan bahwa zaman telah berubah. Dengan perubahan zaman yang terjadi niscaya syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin perubahan bangsa ini pun juga pasti berubah.

Gerakan mahasiswa seharusnya memahami bahwa ending cerita yang ditulis pada zaman ini berbeda dengan ending cerita gerakan mahasiswa masa lampau. Jika gerakan mahasiswa tidak mampu memahami perbedaannya, maka tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa gerakan mahasiswa itu absurd, tak paham zaman, ga’ logis, dan semerawut. Umpatan-umpatan terhadap gerakan mahasiswa tidak akan selesai sampai di sini, bahkan akan lebih dari ini jika memang gerakan mahasiswa tidak berubah dari waktu ke waktu.

Musuh utama gerakan mahasiswa bukan lagi manusia berlencana dengan sebuah rifle, bukan lagi sepatu boot yang siap melayang ke dada dan muka, bukan lagi terik matahari dan kerasnya jalanan, bukan lagi kerajaan tiran yang membungkam ide dan kebebasan berpikir, sekali-kali bukan!! Musuh gerakan mahasiswa saat ini adalah budaya hedonisme, konsumerisme, apatisme, moralitas, ketidak-pekaan, dan kebodohan, itulah musuh utama gerakan mahasiswa sekarang. Bukan lagi angin ribut yang siap mengombang-ambingkan monyet dari atas pohon, tetapi justru angin sepoi-sepoi yang mampu menidurkan monyet dan terjatuh itulah sebenar-benar bahayanya.

Hal ini yang seharusnya menjadi bahan renungan bagi aktor-aktor gerakan sosial mahasiswa. Paradigma gerakan mahasiswa sudah saatnya bertransformasi, secara utuh dan mendasar. Gerakan mahasiswa sudah seharusnya tidak dipandang sebagai gerakan sosial komunis yang anti kemapanan dan cenderung sangat politis. Sudah saatnya gerakan mahasiswa segera mentransformasikan dirinya dalam bentuk yang baru, persis seperti ulat bulu yang mentransformasikan dirinya menjadi kupu-kupu. Perubahan yang benar-benar mendasar, bukan hanya seperti ulat bulu yang diberi lipstik dan baju, bukan hanya bungkus, tapi esensi.

Jika zaman memang sedang bergerak untuk menghargai ilmu pengetahuan dan tunas-tunas bangsa yang berprestasi, maka ke sanalah seharusnya gerakan mahasiswa menuju. Tidak ada yang menyangkal bahwa budaya-budaya seperti hedonisme, konsumerisme, apatisme, moralitas, ketidak-pekaan, dan kebodohan menjadi momok utama dalam membangkitkan ilmu pengetahuan dan prestasi generasi muda. Budaya-budaya tersebut akan seperti borok yang perlahan-lahan merusak mental dan pikiran generasi muda Indonesia.

Perlu diingat, bahwa budaya-budaya kontraproduktif yang telah disebutkan  sebagai musuh gerakan mahasiswa tersebut tidak hanya seperti aliran air, tetapi jauh lebih besar, seperti arus besar yang siap menenggelamkan sebuah kota sebesar Jakarta. Ditambah lagi arus besar budaya kontraproduktif tersebut bergerak secara linear, searah, dan sangat sistematis, sehingga menuntut solusi perubahan yang juga besar, linear, searah, dan sangat sistematis. Di sinilah gerakan mahasiswa berperan penting, mengomandoi individu-individu perubah, agar perubahan tersebut bisa terkoordinasi dengan baik melawan budaya yang juga terkoordinasi dengan baik.

Perubahan ini harus dilakukan secepatnya atau gerakan mahasiswa akan tersisa menjadi keping-keping fosil yang siap dimuseumkan. Atau bisa juga menjadi kenangan yang diceritakan turun-temurun dari generasi ke generasi, sebagai sebuah legenda yang sudah lama mati. Berubah atau tidak adalah pilihan, tapi yang pasti sembari menunggu pilihan berubah atau tidak, perubahan akan tetap berlanjut.

November 28, 2009

Harapan Seorang Muslim

Diarsipkan di bawah: Serius nih.... — Nova Kurniawan @ 5:50 am
Tags: ,

UNTAIAN DO’A

Ya ALLAH,
berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang,mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jamaah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda

Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian Ya ALLAH,
wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah

Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak Engkau Maha Tahu dan melihatnya Ya ALLAH,
kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami

Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”
Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman
Tangan-Mu Berlaku pasti atas kami
hukum-Mu Adil pasti atas kami

keputusan-Mu Ya ALLAH,
kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia
Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan dukan kami
Pencerah mata kami

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya
Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti

Saat para rakyat kecewa denganpara pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa

DO’A RABITHAH

Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam mencintai-Mu, telah bertemu dalam mentaati-Mu, telah bersatu dalam menyeru-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu, kokohkanlah, ya Allah, ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah pudar, lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakkal kepada-Mu, hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat-Mu, wafatkanlah kami dengan syahadah di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik pembela. Ya Allah, amin.

diambil dari: (http://agung.ourfamily.com/untaian_doa.htm)

November 19, 2009

Buku dan Tulisan dalam Gerakan Pembaharu Gerakan Perubahan

Diarsipkan di bawah: Serius nih.... — Nova Kurniawan @ 7:27 am
Tags: , , ,

Begitu kuatnya pengaruh sebuah bacaan dalam proses perubahan, sampai-sampai ada sebuah pepatah yang mengatakan: “jika ingin merubah seseorang maka ubahlah terlebih dahulu buku-buku yang dia baca.” Pernyataan ini membawa kesan yang sangat dalam tentang arti penting buku dalam kehidupan manusia. Buku yang sering dilihat hanya berupa kumpulan kertas dengan tinta yang terurai di atasnya ternyata memiliki sisi lain yang luar biasa, yang ternyata sangat dahsyat dan berpengaruh dalam peradaban manusia.

Tidak akan ada satu pun yang menampik, bahwa perubahan sikap dan cara pandang manusia-manusia luar biasa di dunia ini tidak hanya dipengaruhi oleh pengalaman dan fakta yang sering tidak sesuai dengan idealita yang ada di pikirannya, tetapi juga seringkali dipengaruhi oleh buku-buku apa saja yang dia baca. Che Guevarra, seorang legendaris dari Cuba mulai berubah sejak dia merasakan kondisi yang tidak ideal di negaranya. Akibat dari hal itu, dia memutuskan untuk mulai mengelilingi Amerika Latin untuk mengetahui fakta tentang negaranya. Alhasil dia terkejut karena menemui banyak sekali fenomena-ketidak adilan di kawasan Amerika Latin. Kegelisahan pun muncul dalam diri anak muda dari Cuba tersebut, walaupun dia tidak tahu persis tentang apa masalah mendasar dari negaranya. Ketika pulang dari berkelana, dia mulai membaca berbagai macam buku yang sangat dekat dengan pemikiran kiri. Hasilnya, dia memiliki kesimpulan bahwa ketidak-adilan, kemiskinan, kesengsaraan bangsanya sebenarnya menyentuh aspek yang paling fundamental, yaitu permasalahan pada sistem hidup liberal yang dianut negaranya.

Kita bisa melihat bahwa kombinasi dari buku dan kesenjangan yang terjadi antara idealita dan realita bisa merubah seseorang begitu hebatnya, sampai-sampai perubahan itu tertanam tajam dalam alam bawah sadarnya dan membuat seorang Che berani untuk melakukan perubahan. Itu pula yang terjadi dengan banyak manusia hebat di dunia ini. Manusia-manusia seperti Hasan Al-Banna, Karl Marx, Adam Smith, Napoleon Bonaparte, Adolf Hitller dan sebagainya pasti memiliki sebuah buku pegangan yang mengubah cara pikir dan sikap hidupnya. Dan akhirnya, mereka pun menulis pemikiran mereka secara murni seperti orang-orang yang menginspirasi mereka dan membuat lebih banyak lagi orang-orang dengan pemikiran yang sama seperti mereka.

Buku-buku kuat yang bisa mempengaruhi  itulah yang kurang dimiliki bangsa ini. Pemikiran-pemikiran Che Guevarra, Hasan Al-Banna, Adam Smith, dan manusia-manusia itu memang sangat kuat, tetapi tidak akan cukup kuat dalam merubah aksi-aksi gerakan perubahan di Indonesia. Penyebab utamanya jelas adalah perbedaan kondisi dari sang ideolog dengan pembacanya yang akhirnya berdampak pada sebatas perubahan mindset tanpa aksi konkret yang aplikatif. Dampaknya adalah aksi-aksi dan gerakan perubahan pun terkungkung dalam batas pemikiran yang kuno dan tidak relevan diterapkan saat ini.

Itulah penyebab gerakan-gerakan perubahan di negeri ini masih saja mengarah kepada aksi-aksi frontal yang cenderung politis dan kurang populis. Era baru dan zaman baru telah datang di negeri ini. Kondisi represif yang terjadi sebelum 1998 sudah tidak lagi terjadi. Saat ini bangsa Indonesia bebas meluapkan pemikirannya dan tidak akan ada yang melarang untuk mengkritisi pandangan siapapun di negeri ini. Hal ini seharusnya dilihat sebagai faktor yang sangat menentukan jalan perubahan yang akan digunakan, sehingga aksi-aksi perubahan tidak lagi jumud, tidak relevan, dan akhirnya mandeg dalam kebingungan.

Gerakan perubahan saat ini memiliki peran yang cukup berbeda dengan gerakan perubahan sebelum 1998. Peran gerakan perubahan saat ini bukan lagi mengurusi masalah perebutan ‘kemerdekaan’, tetapi lebih berat dari itu, yaitu mengisi ‘kemerdekaan’. Jika gerakan-gerakan perubahan sebelum 1998 menggunakan sarana jalanan dan aksi-aksi politis untuk merubah ketidak-adilan, maka sudah saatnya sekarang aksi-aksi itu bergeser kepada aksi inspiring. Alasan utama dari keharusan pergeseran ini karena jelas tujuan jangka pendek yang ada sangat berbeda dengan aksi-aksi sebelum 1998. Jika sebelum 1998 aksi-aksi gerakan perubahan bertujuan untuk menggulingkan rezim dan mengangkat penghargaan terhadap pemikiran dan perbedaan, maka setelah 1998, aksi gerakan perubahan seharusnya mengarah kepada pendidikan besar-besaran terhadap jiwa dan akal bangsa Indonesia yang pasti akan sangat berhubungan dengan dunia penulisan.

Perubahan adalah sebuah kepastian. Masalahnya tinggal dimana keberadaan seseorang dalam perubahan tersebut, bisa sebagai penonton perubahan, bisa sebagai prajurit perubahan, atau bisa juga sebagai panglima perubahan. Era telah berganti, dan gerakan perubahan pun juga butuh sebuah pembaharuan. Gerakan penulisan dengan produk buku-buku yang cukup kuat memiliki peran yang jauh lebih besar saat ini karena akan berfungsi sebagai sarana-sarana pendidikan bagi bangsa Indonesia. Tulisan-tulisan yang kuat akan membentuk pemikiran dan kepribadian seseorang sehingga mendorong orang lain juga menuliskan pemikirannya. Akselerasi produk-produk penulisan tersebut bak bola salju yang menggelinding, makin lama makin besar, makin cepat, dan makin kuat dan akhirnya cukup mampu mendobrak dinding batu yang kokoh.

Upaya pembaharuan membutuhkan kesinergisan dan koordinasi yang baik. Jika tidak, maka keburukanlah yang akan menjadi pemenang dalam pentas kehidupan. Wadah seperti FLP bisa menjadi jalan baru bagi pembaharuan ini. Hal ini selaras dengan pepatah yang mengatakan, “Kebaikan yang tidak terkoordinir akan kalah oleh keburukan yang terkoordinir”. Perubahan peran ini bukanlah hal yang cukup mudah dan sepele dilakukan. Jumlah dua ratus juta rakyat Indonesia tidaklah sedikit. Ditambah lagi dengan gempuran berbagai media dengan budaya-budaya ala kebarat-baratan yang dibawanya. Jika melupakan pentingnya koordinasi, sinergisitas, dan persatuan, gerakan pembaharu ini akan kandas tanpa makna melawan gerakan keburukan yang jauh lebih terkoordinir.

November 10, 2009

Demi Cinta

Diarsipkan di bawah: curhat-curhatan...... — Nova Kurniawan @ 8:23 pm
Tags:

1600FG100_029“Maaf.. ku telah menyakitimu Ku telah kecewakanmu Bahkan ku sia-siakan hidupku, dan kubawa kau s’perti diriku Walau hati ini t’rus menangis Menahan kesakitan ini Tapi ku lakukan semua demi cinta Akhirnya juga harus ku relakan kehilangan cinta sejatiku Segalanya t’lah ku berikan Juga semua kekuranganku Jika memang ini yang terbaik Untuk diriku dan dirinya Kan ku t’rima semua demi cinta

Jujur, aku tak kuasa, saat terakhir ku genggam tanganmu Namun yang pasti terjadi, kita mungkin tak bersama lagi Bila nanti esok hari Ku temukan dirimu bahagia Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita selamanya”

Ini liriknya kerispatih….

hmphh.. luar biasa banget…

dalem banget…

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.